Fish

Selasa, 14 Juni 2011

ANALISIS KUMPULAN CERPEN “ BON SUWUNG “ KARYA GUNAWAN MARYANTO

ANALISIS KUMPULAN CERPEN “ BON SUWUNG “
KARYA
GUNAWAN MARYANTO

BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Kumpulan cerpen merupakan suatu karya sastra yang di dalamnya terdapat cerpen-cerpen dengan judul yang berbeda. Dalam mengapresiasi sebuah karya sastra dapat menggunakan teori sastra dan penggaulan sastra. Kali ini kami akan mengapresiasikan sebuah kumpulan cerpen yang berjudul Bon Suwung karya Gunawan Maryanto. Kumpulaan cerpen tersebut diapresiasikan secara individu (setiap cerpen) dan keseluruhan. Untuk dapat menganalisis keseluruhan cerpen, perlu adanya pengapresiasi dimulai dari setiap cerpen. Pengapresiasian cerpen diawali dari penentuan fakta cerita dan sarana cerita. Dan melengkapinya dengan hal-hal yang menarik yang terdapat dalam setiap cerpen. Setelah menganalisisnya satu persatu maka akan didapat keseluruhan maksud dan keterkaitan diantara cerpen yang sau dengan yang lainnya.
Keterkaitan tersebut dapat ditemukan dari kesamaan tema, alur,gaya bahasa, dan beberapa aspek lainnya. Dalam apresiasi tersebut kita juga bisa mengetahui tentang apa maksud dari pengarang menjadikan cerpen-cerpennya menjadi satu buku dalam kumpulan cerpen. Dan mengapa kumpulan cerpen tersebut dinamakan “Bon Suwung”.

B.     TUJUAN

1.       Untuk memenuhi tugas UTS Apresiasi Prosa Fiksi
2.      Untuk dapat menganalisis kumpulan cerpen
3.      Untuk mengetahui fakta cerita dan sarana cerita dalam sebuah cerpen
4.      Untuk mengetahui hal menarik yang terdapat dalam kumpulan cerpen Bon Suwung.








BAB II
PEMBAHASAN

Gunawan Maryanto Lahir di Jogjakarta, 10 April 1976. Sehari-hari bekerja sebagai sutradara dan penulis di Teater Garasi Jogjakarta. Dia seorang penulis yang memberikan ciri khas bagi pembaca cerpen-cerpennya. Ia selalu mengawali ceritanya dengan puisi yang sangat kental dengan budaya Jawa. Bahkan, seluruh cerpennya pun tidak terlepas dari Jawa, baik budaya maupun bahasanya. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (naskah lakon, ditulis bersama Andre Nur Latif dan Ugoran Prasad, Indonesiatera, 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, Insistpress2005), Galigi (kumpulan cerpen, Koekoesan, 2007), Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (kumpulan puisi, Omahsore, 2008) dan Usaha Menjadi Sakti (kumpulan cerpen, Omahsore, 2008).
Cerpen Bon Suwung sendiri memiliki dua versi, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Menarik, terutama bagi anda yang menyukai puitika. Sedangkan, Anda yang jarang membaca cerpen semacam ini, bisa memberikan makna terdalam ketika mencerna kata demi kata di setiap cerita yang dituliskan GUNAWAN. 5 tahun yang lalu (2005) dia mengumpulkan sejumlah cerpen .Dimulai menulis cerita pendek di pertengahan tahun 2003.  Karya pertama selalu penuh kesan–setidaknya baginya. Dia berkata “saya benar-benar menikmati prosesnya di tengah-tengah saya menanti kelahiran aranku sunya. cover buku dikerjakan dengan cepat oleh andy senoaji. saya tak tahu kenapa ia bisa secepat itu mengerjakannya :) tidak sebagaimana biasanya, musti dikejar-kejar dan ditunggu dalam waktu yang lama. komentar-komentar untuk buku pun dengan cepat bisa saya peroleh. semula saya minta oom danarto untuk memberi catatan kecil. tapi beliau menolaknya dengan halus dan malah memberi nomor pak budi darma–cerpenis idola saya. dengan nekat saya telepon beliau. waktu itu pak budi tampaknya sedang di tengah acara sehingga ia tak terlalu mendengar kata-kata saya. saya cuma bilang saya seorang cerpenis jogja yang mau bikin buku dan mendapatkan nomor beliau dari oom danarto. lalu beliau bilang sms saja. dan dalam sms itulah saya minta beliau untuk mengomentari buku pertama saya ini. beliau menyanggupi dan meminta saya untuk mengirimkan draft buku tersebut ke alamatnya. wah senangnya bukan kepalang. malam itu juga saya susun cerpen-cerpen saya dengan pagemaker, mengeprintnya dan kemudian membendelnya. besoknya saya kirim draft bon suwung itu ke Surabaya”.
Kumpulan cerpen ini terdapat sebelas cerpen. Yaitu (1) Jangan Bilang-Bilang Kala, (2) Serat Padi, (3) Bunga Api, (4) Khima, (5) Lubdaka, (6) Bon Suwung (versi Jawa), (7) Bon Suwung ( versi Indonesia), (8) Penjaga Kuburan, (9) Cerita yang Tidak Berakhir di dalam Sebuah Botol, (10) Yu Siti, dan (11) Lantana. Berhubung ada satu cerpen yang sama, namun disajikan dengan bahasa yang berbeda. Maka kumpulan cerpen ini terdiri dari sepuluh cerpen.
Untuk menganalisis dan mengapresiasikan keseluruhan cerpen, kami akan mengelompokkan cerpen-cerpen tersebut berdasarkan kesamaan tema, keterkaitan antar cerita dalam cerpen, kesamaan nasib tokoh, cara penyampaian cerita, dan keseluruhan amanat. Dari sana bisa dilihat apa saja karakteristik dan ciri khas setiap cerpen yang tidak menutup kemungkinan saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
Seperti cerpen khima dan lubdaka yang ceritanya yang saling berhubungan. Khima adalah seorang gadis buta yang baik dan pendiam. Suatu haru ia tersesat didalam hutan sendirian selama tiga hari. Ketika dia pulang dia membawa sebuah sitar, dan sitar itu adalah pemberian dari seseorang yang ia temui di hutan. Pemilik sebenarnya sitar itu adalah Lubdaka. Tidak disangka sitar itu diambil lagi oleh Lubdaka dan membunuh Khima hingga ia ditemukan mati di telaga dengan leher koyak. Hal ini terdapat pada halaman 56 dan 57.
Seorang laki-laki kecil dengan gigi-gigi yang besar mendekati Lubdaka sambil membawa sebuah sitar.
“seharusnya kau tak perlu membunuh gadis itu. Ia buta. Ia tak mengenal wajahmu.”
“aku pun tak menginginkan kematiannya, Galigi. Aku hanya menginginkan sitar ini. sitar terindah yang pernah aku lihat. Kenapa? Kau jatuh kasihan padanya?”
Pada cerpen Lubdaka diceritakan bahwa dia membunuh Khima bersama sahabatnya Galigi.
“Khima, bisiknya. Lelaki itu menahan nafasnya tiba-tiba, ia merasa tak bisa melanjutkan lebih jauh lagi. Petikan sitar itu kembali. Melantunkan sebuah lagu yang, sekali lagi, membuatnya harus berkaca-kaca. Ia jadi teringat Galigi sahabatnya. Setelah mereka membunuh Khima, lelaki bergigi besar itu diusirnya pergi.” (hal 69-70)
Keterkaitan antara cerpen Khima dan Lubdaka ini lebih lebih dijelaskan pada catatan akhir atau endnotes.
Endnotes ternyata ada pada beberapa cerpen. Diantaranya yaitu cerpen Jangan Bilang-Bilang Kala, Khima, Lubdaka, Bon Suwung dan Lantana. Juga ada Catatan, dalam cerpen Jangan Bilang-Bilang Kala dan Serat Padi. Endnotes merupakan penjelasan atau gambaran yang lebih jauh tentang cerita yang ada dalam cerpen. Dan endnotes juga berisi cerita yang belum sempat dipaparkan dalam cerpen secara terinci.  
Contohnya :
Endnotes :
“Khima, dari mana kau mendapatkannya?” Wa Mukmuk seperti tak percaya pada usianya. Tapi Khima semakin tenggelam dalam petikan sitarnya. “Dewa mana yang mengajarkan lagu itu padamu? Para pejalan dan jalan setapak, tidak jelas lagi siapa yang melintas dan dilintasi. Tak terang lagi siapa yang harus bertanggung jawab atas imaji terpatah-patah dan parah ini. Mungkin aku, dihari minggu yang lain. Tapi Khima sudah tak berada ditempatnya. Kelak ia akan ditemukan seorang gadis di tepi telaga dengan leher koyak.²
Angka dua di bagian akhir kalimat juga menunjukkan untuk membaca Endnotes. Disana akan dijelaskan apa penyebab dari nasib Khima yang nanti ditemukan di tepi telaga dengan leher koyak.
Sejak sanggup memainkan sitar, perasaan bersalah mengutuk seluruh kehidupan Khima selanjutnya. Hidupnya setelah sanggup memainkan sitar . Perasaan itu makin menjadi-jadi setelah disebuah malam yang hujannya sangat deras, ia bermimpi. Sesosok tubuh bebalut kabut cahaya yang merah lemah menghampirinya. Khima tak tahu makhluk apa yang demikian lembut dan kejam yang telah ahdir dihadapannya. Ia hanya merasakan kemarahan yang tertahan........ ( Cerpen Khima)
Sedangkan catatan merupakan sebuah penjelasan tentang sumber dari cerpen itu. Karena beberapa dari cerpen Gunawan Maryanto ini diadaptasi dari karya sastra yang lain yang berupa serat.
Contohnya:
Catatan:
Catatan ini berangkat dari Murwakala dan Ruwatan dalam serat Centhini, versi Kyai Demang Reditanaya, versi Raden Mas Citrakusuma, dan versi S. Padmosoekotjo.  (Cerpen Jangan Bilang-Bilang Kala)
Dalam kumpulan cerpen ini ditemukan kesamaan nasib seorang tokoh yaitu tokohnya tidak bisa melihat atau mengalami kebutaan. Seperti pada cerpen Khima yang dijelaskan pada endnotes 1 paragraf 1.
Kamu tak pernah tahu namanya. Ia datang begitu saja. nenekmu yang tahu tapi tak pernah bercerita padamu. Namanya Khima, datang pada masa ketika kamar mandimu adalah sebuah telaga. Khima gadis cantik dan menarik. Buta, pendiam dan bersuara lembut. Pandai memetik sitar. Terlalu sering ia menghabiskan sore dengan sitarnya.
Dalam cerpen Yu Siti, tokoh Yu Siti disini diceritakan sebagai seorang wanita yang memiliki mata yang keruh hingga suatu hari matanya benar-benar tidak bisa melihat.
Uh, Mata yang keruh. Hanya itu yang paling ku ingat dari Yu Siti. Aku sering bertanya-tanya: aku terlihat seperti apa? Berdasarkan ingatanku(yang rapuh), bola matanya begitu keruh. Bola mata itu seperti baru saja jatuh ke tanah dan lupa dibersihkannya. (halaman 125)
Aku buta , Lang, kau tentu ingat itu! (halaman 133)
Dan di cerpen Lantana ada seorang tokoh Gertrude yang tidak bisa melihat.
“Ayolah, Bapa, kau telah berjanji untuk tidak sekali-kalinya membohongiku. Pertama, bukankah pengecut membohongi seorang yang buta? Kedua, karena tak akan berhasil. Ayolah, Bapa, kepada siapa aku mesti bertanya kalau bukan kepadamu.” (halaman 143)
            Bila dianalisis dari kesamaan tema, beberapa cerpen yang mempunyai kesamaan tema. Seperti cerpen Jangan Bilang-Bilang Kala dan Serat Padi. Kedua cerpen itu bertemakan kepercayaan dalam kehidupan masyarakat yang berupa mitos. Dalam cerpen Jang Bilang-Bilang Kala, lebih menyorot berbagai mitos atau hal-hal yang dipercaya oleh suatu masyarakat.
Cerpen ini menceritakan tentang tokoh kami yang dikejar-kejar oleh Kala yang digambarkan sebagai seorang raksasa. Dan dari usaha kejar mengejar tersebut muncullah berbagai mitos yang sampai saat ini tidak menutup kemungkinan masih dipercaya oleh orang-orang tertentu.
 “Tadi sore ibu menyuruh kami mandi ditelaga Madirda. Katanya biar hidup kami selamat dunia akhirat”. (Halaman 3)
 “Ia mengira bencana akan datang. Ia lalu menyuruh nenekmu telanjang dan menari-nari berkeliling rumah tiga kali”. (Halaman 6)
Dan di cerpen Serat Padi yang di ceritakan pada cerpen lebih mengarah pada cerita zaman dahulu, yang lebih mengarah pada kepercayaan seperti upacara selamatan-selamatan yang diadakan sebelum menanam padi dan panen.
Tanamlah dengan upacara selamatan terlebih dahulu, karena berbagai macam hama terus mengutitnya. Tanamlah di hari baik, dimana angka-angka pasaran, hari, bulan, dan tahun satu di urutan Sri, karena akan mendatangkan rejeki berlimpah. Jika jatuh di Kitri artinya cocok juga buat bertanam karena itu memang masanya tanaman tumbuh... (Halaman 27)
Kami juga menemukan adanya beberapa unsur agama yang melatarbelakangi cerita dalam cerpen-cerpen tersebut. Misalnya agama Islam dalam cerpen Serat Padi. Ini ditunjukkan pada halaman 30-31
Sri hanya tersenyum, “Man Demang, tak ada dosamu padaku. Yang ada adalah dosamu pada Gusti Allah. Mohonlah ampun pada-Nya.”
Agama Kristen dalam cerpen Lantana, dijelaskan pada halaman 138.
Aku kembali mendengar, sekalipun telah ku coba menghindar, Simfoni Pastoral-nya Beethoven di Neuchatel.
Agama Hindu dalam cerpen Bunga Api, Khima, Ludbaka, Penjaga Kuburan dan Cerita yang Tidak Berakhir di Dalam Sebuah Botol yang ditandai dengan nama-nama Hindu yang digunakan dalam penamaan tokoh-tokoh.
Dalam cerpen Bunga Api ditunjukkan pada halaman 44.
Tapi Kala, sekali lagi Kala, belum apa-apa ia sudah minta seluruh dewa menyembah kakinya. Dewa-dewa marah dan Wisnu mengutuknya jadi celeng.
Dalam cerpen Penjaga Kuburan ditunjukkan pada halaman 108.
Dikamar berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia itu pula aku bertemu dengan Siwa. Lelaki berkulit putih, seorang saudagar dari tanah seberang, tiba-tiba datang menemuiku. Ia telah mendengar namaku kata-Nya... lelaki itu seperti Brahma, jauh berbeda tabiatnya dengan orang-orang yang kulayani setiap malam.
Dalam cerpen Cerita yang Tidak Berakhir di Dalam Sebuah Botol ditunjukkan pada haaman 114.
Kami berdua adalah Bremana atau mengaku sebagai Bremana, suami Bremani.
Adapun cerpen yang menjadi judul dari kumpulan cerpen ini yaitu “Bon Suwung” sinopsisnya adalah sebagai berikut:
Bon suwung merupakan pelataran luas tanpa nama dan pepohonan. Cerita pendek yang diawali dengan puisi ini menceritakan tentang sebuah penantian dan harapan, ikatan yang terjalin antara seorang lelaki dan perempuan. Meski dalam pertemuan semu di masa kecilnya, namun mereka teringat akan keberadaan Bon Suwung sebagai tempat mereka bertemu.

Ada bocah lanang memetik bunga. Lalu dibuang. Memetik lagi. Dibuang lagi. Lalu ada bocah perempuan mendekat. Berkaca-kaca melihat sampah bunga-bunga. Lalu jongkok memungutinya satu persatu. Ditata di atas sebuah pagar bata, (hal 91).

Keinginan dan harapan si perempuan untuk mencari dan bertemu kembali dengan kenangannya. "Aku ingin mencari embun yang serupa dengan air matamu," begitu pamitnya pada si perempuan. Si perempuan berteriak, tapi sudah kehilangan lacak. Si lelaki sudah hilang di perempatan, (hal 95).

Amanat yang dapat kami tangkap dari kumpulan cerpen ini adalah hendaknya manusia memperbaiki sifat-sifatnya, karena sifat buruk akan menimbulkan kesusahan bagi diri sendiri dan orangt lain. Seharusnya kita senantiasa selalu bersikap baik kepada siapa saja tanpa membedakan bentuk fisik orang lain yang apakah itu kotor atau bersih. Karena setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada balasannya. Jika kita berbuat baik maka hal baik pula yang dapat kita peroleh, begitu juga sebaliknya, Jadi senantiasalah kita dapat menjadi sosok yang baik dan tidak pernah membedakan orang lain hanya dari luarnya saja. Dan Janganlah menjadi orang yang ceroboh , pikirkan segala sesuatu sebelum melakukannya ,karena itu bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Dalam kumpulan cerpen ini juga diceritakan tentang sebuah kepercayaan bahwa Janganlah kita  mudah menerima bantuan atau barang dari orang asing. Orang yang kita anggap baik belum tentu dia benar-benar orang yang baik. Jangan menyimpan dendam pada orang lain karena akan membuat perasaan gelisah dalam diri Jangan main hakim sendiri karena bisa berakibat vatal, yaitu meninggalnya seseorang, yang terakhir yaitu Sebagai manusia biasa hendaknya kita jangan takut untuk berharap akan sesuatu, namun pengaharapan itu juga janganlah terlalu berlebihan karena apabila sesuatu yang kita harapkan itu tidak pasti maka kita juga akan sakit sendiri. Itulah amanat yang dapat kami ambil dari kumpulan cerpen Bon Suwung.











Apresiasi Cerpen “Jangan Bilang-Bilang Kala”
Arum Lestari (102074228)
PB 2010

Cerpen ini berasal dari kumpulan cerpen berjudul “BON SUWUNG” karya Gunawan Maryanto. Cerpen ini terdiri dari 41 paragraf, 34 paragraf menceritakan suatu kejadian serta 7 paragaraf merupakan penjelasan asal cerita dan penjelasan tentang tokoh “kami”. Pengarang  menggunakan sudut pandang pencerita sebagai pelaku utama.
 Cerita ini berasal dari Murwakala dan Ruwatan dalam serat Centhini, versi Kyai Demang Reditanaya, versi Raden Mas Citrakusuma dan versi S. Padmosoekotjo. Cerpen ini berbentuk sebuah curhatan atau cerita perjalanan tokoh “kami” kepada orang kedua “mu”. Cerpen ini beralur maju, terjadi dari latar waktu sore hingga pagi hari.
Terdapat beberapa tokoh sentral didalam cerpen ini yaitu Kala dan tokoh “Kami”. Serta tokoh bawahan yaitu, Tukang Bangunan, Istri mu (orang kedua), nenek dan kakekmu, dalang Kandabuwana, Ki Buyut Wangkeng, Rara Primpen, Ki Buyut Geduwal, Petung Luyung, dan Jugil awarawar. Selain itu juga terdapat beberapa latar waktu seperti, pada sore hari, terbukti pada paragraf dua,” Tadi sore ibu menyuruh kami mandi ditelaga Madirda”.
Diwaktu senja, terdapat pada paragraf sepuluh, “Matahari belum sepenuhnya terbenam”. Tengah malam, pada paragraf sembilan belas,” Sudah tengah malam”. Latar waktu Dini hari, pada paragraf 31,” Ia terbangun dan geragapan mendapati hari sudah menjelang pagi” dan latar waktu pagi hari, pada paragraf 32, “ Sesekali kami berhenti untuk menikmati pagi dan burung-burung”.
Terdapat gaya bahasa hiperbola dalam kalimat,” Penciumannya sangat tajam”(parf. 7). Gaya bahasa personifikasi, “ Menapaki jalan-jalan disepanjang tubuh Kala”(parf. 33). Majas metafora,” Lelaki tua bermata kedelai itu tak tega melihat kemalangan Ki Buyut Geduwal”(parf. 13).
Menurut saya cerpen ini lebih menyorot berbagai mitos atau hal-hal yang dipercaya oleh suatu masyarakat. Cerpen ini menceritakan tentang tokoh kami yang dikejar-kejar oleh Kala yang digambarkan sebagai seorang raksasa. Dan dari usaha kejar mengejar tersebut muncullah berbagai mitos yang sampai saat ini tidak menutup kemungkinan masih dipercaya oleh orang-orang tertentu. Seperti pada paragraf ke dua, “Tadi sore ibu menyuruh kami mandi ditelaga Madirda. Katanya biar hidup kami selamat dunia akhirat”. Kemudian pada paragraf sembilan, pada baris ke empat, “Ia mengira bencana akan datang. Ia lalu menyuruh nenekmu telanjang dan menari-nari berkeliling rumah tiga kali”.
Selain itu juga terdapat nilai moral yang disampaikan dalam cerpen ini yaitu pada paragraf 11, baris ke lima “Mengutukmu yang membuat jalan disebelah barat rumah. Juga serambi rumah dan perempuan yang duduk dimuka pintu saat matahari tenggelam”, kalimat tersebut memberikan pesan bahwa, hal tabu bila seorang wanita duduk di teras atau dimuka pintu pada saat matahari tenggelam. Hal ini dipercaya oleh orang-orang jawa.
Terdapat dua tokoh yang dijadikan objek lebih dalam oleh pengarang yaitu “Kala” dan “Kami”. Kala disini di ibaratkan sebuah bencana atau kesialan, sedangkan “Kami” lebih menggambarkan tentang sifat-sifat manusia. Pada paragraf 36, dijelaskan secara tersirat bahwa “Kami” adalah sifat-sifat serta kebiasaan manusia yang baik dan buruk. Dalam cerpen ini Kala mengejar tokoh kami, bisa digambarkan bahwa sifat manusia tidak terlepas dari kesialan. Sehingga ada upaya yang dilakukan manusia agar terhindar dari kesialan yang akan menimpa. Seperti suatu upacara Ruwatan, yang dipercaya oleh orang jawa sebagai pengusir kesialan.
Amanat yang dapat saya tangkap dari cerpen ini adalah hendaknya manusia memperbaiki sifat-sifatnya, karena sifat buruk akan menimbulkan kesusahan bagi diri sendiri dan orangt lain.























SERAT PADI

Nama : Septrioni Megasari
NIM / Kelas : 102074211 / PB-2010
Jurusan : S1. Pend.Bahasa dan Sastra Indonesia
Unsur Prosa Fiksi
1.      Fakta Cerita :
·         Alur : Maju
    Pada cerpen yang berjudul ”Serat Padi” termasuk alur maju karena pada awal cerita menceritakan tentang perkenalan tokoh dan penjelasan tentang awal mula peristiwa yang terjadi pada isi cerpen lalu diikuti paragraph selanjutnya yang menceritakan tentang kejadian demi kejadian yang tersusun secara beruntun yang menjelaskan tentang peristiswa yang dialami oleh Sri dan Sedana pada saat ia mengembara dari satu tempat ketempat yang lain dan pada akhir cerita merupakan akhir dari penyelesaian pengembaraan Sri dan Sedana yang bertempat di gunung Sukalila.

·         Tokoh dan Penokohan :
Tokoh sentral :
>> Sri
“Sri dan Sedana telah bertemu Sang Nabi.”
>> Sedana
“Sri dan Sedana segera meninggalkan Madinah begitu tahu si pipit tek bertengger di tempat yang seharusnya.”

Tokoh Periferal :
>>Swardana
“Swardana yang sudah tahu kemana arah angin akan menuju segera membuka pintu, menyilahkan mereka makan semangkuk jagung”
>>Jabaril
“Jabarail datang menjemput Sri dan Sedana”
>>Celeng Sarenggi
“Celeng Sarenggi yang sedari tadi berkubang sambil menikmati padi-padi yang tiba-tiba tumbuh di sekelilingnya .”
>>Ula Sawa
“Ula Sawa berdesis”
>>Seh Sahluke
“Seh Sahluke, lelaki jawa yang berdiam di puncak gunung Serandil”
>>Dama Nista
“Tapi Dama Nista malah mengusir karena takut tertular penyakit dari tubuh sri yang kotor.”
>>Ki Demang Dukuh Tengah
“Dan begitu air surut terkejutlah Ki Demang dan warganya karena seluruh padi di sawah berubah menjadi rumput.”

·         Latar
Ø   Tempat
>>Langit ( Sri dan Sedana bersama seekor pipit melintasi langit sembari mengupas buah kuldi
>>Rumah Swardana  ( Swardana menjamu tetamunya dengan ramah hingga tanpa ragu-ragu Sri meninggalkan seluruh karunia buah kuldi di rumah Swardana)
>> Madinah ( Lalu bergegaslah mereka menuju Madinah)
>> Puncak Gunung Selatan (Karena ia ketinggalan di puncak Gunung Selatan)
>> Kerajaan Busarah (Maka pergilah Sri dan Sedana ke kerajaan Busarah)
>> Dangau tengah sawah (Serombongan penduduk berkumpul di dangau tengah sawah)

Ø  Waktu
>> Malam (Aku tak tahu, berapa lama hujan itu mesti turun, sebagaimana aku tak tahu dimana haarus mencarimu malam itu)
>> Hujan lebat dan Air bah (Air bah kembali datang menyertai kemarahan Sri dan Sedana)

Ø  Latar Sosial
Hal-hal yang di ceritakan pada cerpen lebih mengarah pada cerita zaman dahulu, yang lebih mengarah pada kepercayaan seperti upacara selamatan-selamatan yang diadakan sebelum menanam padi dan panen. Juga pada setiap cerita sangat memperlihatkan bahwa jika perlakuan baik akan memperoleh kebaikan nantinya dan begitu pula sebaliknya.



2.      Sarana Cerita
·         Judul : Serat Padi

·         Sudut Pandang :
Sudut pandang persona pertama “aku” sebagai tokoh utama dan pencerita.
>>Uh, aku jadi teringat si pipit. Burung kecilku itu jadi lalai ku ceritakan padamu, maafkanlah, karena ia telah menjatuhkan beberapa bulir padi disana.
>>Aku tahu, seharusnya cerita berhenti disini. Lebih baik berakhir seperti ini. Sudah tak ada kemungkinan bagi Sri dan Sedana untuk melanjutkan perjalanannya.
    
·         Gaya Bahasa :
>>Alegori
Hujan melulu turun garis tangisnya begitu tajam seolah tak bakal bisa di patahkan siapapun, seolah siap melukai siapapun.
>>Pleonasme
Hujan itu menyusun tubuh sedana sebagaimana semula, melunturkan kesedihan Sri yang telah lekat menyatu dengan kulit langsatnya.

·         Tema dan Amanat :
Ø  Tema :
        Setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada balasannya entah itu baik atau buruk.
Ø  Amanat :
        Pada cerpen serat padi ini menceritakan tentang perjalanan atau pengembaraan Sri dan Sedana dengan berbagai macam rintangan yang dilalui yang pada setiap cerita pada perjalanannya mereka ditemukan dengan orang-orang yang memiliki sifat baik dan buruk, dan pada cerpen Serat Padi amanat yang dapat saya pahami setelah menganalisis cerpen ini adalah seharusnya kita senantiasa selalu bersikap baik kepada siapa saja tanpa membedakan bentuk fisik orang lain yang apakah itu kotor atau bersih. Karena setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada balasannya. Jika kita berbuat baik maka hal baik pula yang dapat kita peroleh, begitu juga sebaliknya, apabila kita berbuat buruk maka hal buruklah yang akan menimpa diri kita di kemudian harinya. Jadi senantiasalah kita dapat menjadi sosok yang baik dan tidak pernah membedakan orang lain hanya dari luarnya saja.

3.      Hal Yang Menarik
            Dari cerpen ini yang secara keseluruhan menceritakan tentang perjalanan tokoh Sri dan Sedana yang mengembara mengelilingi berbagai tempat, dan saya memperoleh hal yang menarik pada cerpen ini yaitu yang ada pada paragraph ke.17 yang berisi ‘Suara itu pergi begitu saja. Seolah puas habis memuntahkan serapah. Sri dan Sedana seperti baru saja bangun dari mimpi panjang yang menegangkan. Segera mereka sadar harus mencabuti benih-benih padi yang kadung tumbuh yang membawanya ke seh Sahluke, lelaki Jawa yang berdiam di puncak Gunung Serandil, yang dipercaya Gusti Allah untuk menanam padi pertama di tanah Jawa.
         Dari isi paragraph tersebut menarik karena memperlihatkan mulainya jalannya cerita yang dimana dapat memperlihatkan bagaimana isi cerita, karena dimulailah perjalanan Sri dan Sedana dengan lebih hati-hati dalam setiap langkah yang akan diambilnya. Dan dari paragraph tersebut mulai terlihat lebih jelas bagaimanakah isi cerita pada cerpen ini yang semulanya agak membingungkan.






















Nama          : Indah Puspitasari
Kelas           : PB 2010
Nim             : 102074224

Analisis Cerpen
BUNGA API

Unsur Prosa Fiksi
1.Fakta Cerita
a.    Alur   : Flash Back
ü      Seluruh kisah ini bermula dari cahaya sebesar lidi jantan................
b.   Tokoh dan Penokohan
ü      Aku (Baik, penasaran)   :
1.   Aku menanam pohon pisang di sepasang tanganmu......................
2.   Aku tak kuasa menahan rasa ingin tahuku

ü      Uma (Penyayang)           :
1.   Uma memelukku dari belakang
ü      Kaneka (Baik, Ramah)   :
1.   Lalu ia mengusap mataku...............
2.   “Adik ingin tahu apa yang ada dalam genggaman tangan kiriku ?”
ü      Andini (Baik)                  :
1.   Aku melayang di punggung Andini....
ü      Antaboga (Cuek,Baik)    :
1.   “Cari saja sendiri...hmmmm”
2.   “Sabar Kaneka,sabar”.....
c.    Latar
ü      Dasar laut                      : Di dasar laut kami bertemu
ü      Rumah Tokoh Aku         : Dengan senang hati, Kakak. Kupersilahkan Kakak mengunjungi rumahku.
ü      Depan pintu kamar       : Seekor naga tertidur di depan pintu kamarku.
ü      Tepi Hutan                     : Ku minta Kaneka menguburmu di tepi sebuah hutan.

d.   Waktu
ü      Tiga hari tiga malam      : Tiga hari tiga malam kami bercakap tentang banyak hal.
ü      Sore                               : Di balai pandang ,dimana biasanya aku memandang seluruh dunia ,menghabiskan sore.
2. Sarana Cerita
a.    Judul                   : Bunga Api
b.   Sudut Pandang    : Orang pertama tokoh utama (Karena dari awal hingga akhir cerita selalu ada)
c.    Gaya Bahasa dan Nada  : Bahasa berbelit-belit, banyak menggunakan majas.
a.    Aku perintahkan hujan semusim menjengukmu (Majas Personifikasi )
b.   Udara demikian terbuka dan langit berwarna sesuai dengan keinginanku (Majas Personifikasi).
c.    Aku hampir saja meledakkan tawaku (Majas Hiperbola)
d.   Kuperintahkan asap tebal itu menyingkir (Majas Personifikasi )

d.   Tema dan Amanat                   :
a.    Tema           : Kasih tak sampai
b.   Amanat       : Janganlah menjadi orang yang ceroboh ,pikirkan segala sesuatu sebelum melakukannya ,karena itu bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Hal Yang Menarik          :
          Cerpen ini menceritakan tentang percintaan yang penuh teka teki. Meskipun sulit di pahami, namun jika di baca mengandung makna yang dalam . Cerpen yang terdapat 84 paragraf ini menceritakan tentang dua anak manusia yang saling mencintai namun pada akhirnya kisah cinta mereka tidak pernah terwujud karena sang perempuan meninggal dunia.
          Pada suatu waktu ,si lelaki mempunyai imaji tentang sang perempuan. Dia berkhayal bahwa perempuan itu hadir lagi di hadapannya ,namun dalam wujud yang berbeda. Dan pada akhirnya mereka melewati pertemuan itu dengan saling berpelukan . Namun seketika itu hilang ,karena sang perempuan memang telah tiada.
          Cerpen ini menggunakan nama-nama tokoh yang begitu asing di dengar. Seperti Antaboga,Kaneka, Uma dan Antana . Disini juga menyebutkan “Hyang Widhi” ,yang merupakan Tuhan dari umat Hindhu.




















KHIMA
Dianalisis oleh:
Siti Nur Mahmudah (102074206)/PB 2010
1.      Fakta Cerita

a)    Alur
Jumlah paragraf ada 37
Menggunakan alur maju.
Paparan                : Paragraf 1-4
Rangsangan         : Paragraf 5-6
Gawatan               : Paragraf 7-15
Tikaian                  : Paragraf 16-18
Rumitan               : Paragraf 19-23
Klimaks                : Paragraf 24
Leraian                 : Paragraf 25-30
Selesaian              : Paragraf 31-37

b)    Tokoh dan Penokohan
Ø  Khima
Gadis baik, suka menyapa, dan pendiam. Ia pandai memainkan sitar.
Bukti :
·         Khima gadis cantik dan menarik. Buta, pendiam dan bersuara lembut. Pandai memetik sitar. Terlalu sering ia menghabiskan sore dengan sitarnya. (Endnotes 1, paragraf 1)
·         Mereka tak heran ketika tiba-tiba saja Khima memanggil nama mereka dengan baik dan benar waktu berpapasan di jalan. (Paragraf 14)
Ø  Lasa
Sangat menyayangi dan mengkawatirkan anaknya, juga bijaksana.
Bukti :
ü  Bijaksana
ü  Tapi Lasa berharap perhatian itu tak akan bertahan lama. Ia sudah banyak terbantu sekaligus terganggu oleh perhatian besar saudara-saudaranya itu. Ia ingin mereka segera bisa menerima kehadiran Khima dengan wajar. (Paragraf 14)
ü  Lasa sebenarnya ingin berlari memeluknya, tapi tiba-tiba saja ia merasa itu bukan tindakan yang tepat. (Paragraf 26)
ü  Sangat menyayangi dan mengkawatirkan anaknya
ü  Sampai suatu malam Lasa berteriak-teriak, “Tolong! Khima hilang. Khima tak pulang!” Dan seketika berkumpullah seluruh warga di depan rumah Khima. Wa Mukmuk yang renta tampak berusaha menenangkan Lasa yang panik.( Paragraf 16)

Ø  Wa Mukmuk
Baik dan dia tau akan masa depan.
Bukti :
ü  Khima sudah buta sejak dilahirkan. Lasa sama sekali tidak terkejut ketika mendapati anaknya lahir dengan mata yang indah tapi sama sekali tak dapat melihat apa-apa. Lasa sudah tau sebelumnya. Wa Mukmuk sudah memberi kabar duka itu ketika kandungan Lasa berusia delapan bulan. (Paragraf 7)
ü  Wa Mukmuk yang renta tampak berusaha menenangkan Lasa yang panik. “Tenang, anakku. Aku lupa bilang bahwa kelak anakmu akan hilang. Tenang. Ia akan segera pulang.” (Paragraf 16 dan 17)
Ø  Lubdaka
Kejam dan pendendam. Karena ia telah membunuh Khima tanpa ampun.
Bukti :
ü  Sudahlah. Kini nampaknya kau harus sedikit mengenal Lubdaka yang melempar dau-daun maja ke tengah telaga. Matanya yang besar dan mengerikan itu tak pernah lepas dari daun-daun maja yang terhempas dan mengambang disana. (Paragraf 31)
“ Aku pun tak menginginkan kematiannya, Galigi. Aku hanya menginginkan sitar ini. sitar terindah yang pernah aku lihat. Kenapa? Kau jatuh kasihan padanya?” (Paragraf 35)
Ø  Kinnara
Pemarah dan  pendendam.
Bukti :
ü  “Namaku Kinnara. Kau lupa menanyakannya, bukan? Kurasa ini bukan soal yang sederhana. Bukan soal seseorang lupa menaruh dompetnya dimana. Kemarahan telah membawaku kehadapanmu. Ia tidak menerima kesalahan yang kau lakukan padaku. Maka, Khima, terkutuklah seluruh hidupmu!” (Endnotes 2, Paragraf 4)
Ø  Galigi
Patuh pada Lubdaka.
Bukti :
ü  “ Galigi, bawa sitar itu kemari.” Seorang lelaki kecil dengan gigi-gigi yang besar mendekati Ludbaka sambil membawa sebuah sitar.(Paragraf 32-33)
Ø  Warga (para ibu)
Simpati dan peduli dengan warga lain termasuk pada Lasa dan Khima.
Bukti :
ü  Di balai para ibu berdoa, membunyikan tabuhan dan bergantian menjaga nyala api di setiap sudut yang gelap. (Paragraf 18)
Ø  Warga (para lelaki)
Simpati dan peduli dengan warga lain termasuk pada Lasa dan Khima.
Bukti :
ü  Hingga hari ketiga Khima tak juga pulang. Para lelaki telah berulang kali menyisir hutan. Sudah tiga pagi para lelaki itu pulang dengan wajah lelah dan bersalah. (Paragraf 23)

c)     Latar       
a.     Waktu
v  Pagi
Pagi sehabis kedatangan Kinnara, Khima adalah gadis paling murung di seluruh kampung-kampung. (Endnotes 2, Paragraf 7)
v  Sore
Sorenya, mereka akan membakar ulat-ulat itu lalu menyantapnya dengan lahap. (Paragraf 4)
Terlalu sering ia menghabiskan sore dengan sitarnya. (Endnotes 1,Paragraf 1)
v  Malam
Perasaan itu semakin menjadi-jadi setelah disebuah malam yang hujannya sangat deras, ia bermimpi. (Endnotes 2, Paragraf 1)
Sampai suatu malam Lasa berteriak-teriak. (Paragraf 16)

b.     Tempat
v  Jalan setapak
Adalah jalan setapak dengan jajaran pohon jati muda. (Paragraf 4)
Ikuti saja jalan kecil yang seolah tak akan menuju ke mana-mana. (Paragraf 4)
v  Sebuah kampung kecil
Kau tak akan mengira ada sebuah kampung kecil di ujung jalan sana. (Paragraf 4)
v  Di rumah Lasa
Hampir setiap malam menuju kelahiran Khima, warga bergantian berjaga di rumah Lasa. (Paragraf 9)
v  Di depan rumah Khima
Dan seketika berkumpullah seluruh warga di depan rumah Khima.(Paragraf 16)
Khima berdiri tegak di depan rumahnya seperti mencoba memastikan apakah benar ia telah berada di sana. (Paragraf 26)
v  Hutan
Para lelaki berjalan menyusuri hutan – hutan yang melingkungi perkampungan itu. (Paragraf 18)
v  Balai
Di balai para ibu berdoa, membunyikan tabuhan dan bergantian menjaga nyala api di setiap sudut yang gelap.(Paragraf 18)
v  Di tepi telaga
Akhirnya di hari dimana angin selatan dan angin utara bertemu seorang gadis berteriak ketakutan katika mendapati tubuh Khima tergeletak kaku di tepi telaga dengan leher koyak. (Endnotes 2, Paragraf 7)

c.      Sosial
v  Kepedulian warga terhadap kematian lelaki Lasa, mereka mendendangkan lagu kematian sebagai bentuk belasungkawa.
Mereka semua berjumlah tujuh orang, tapi tiga hari kemudian jumlah itu berkurang karena salah seorang dari mereka hilang ditengah hutan ketika sedang mencari kayu untuk mendirikan rumah. Seluruh warga mengadakan selamatan malam harinya, untuk seseorang yang baru saja mereka kenal. Mereka mendendangkan lagu kematian dengan bersahut-sahutan yang sepintas akan mirip dengan suara ribuan gagak di padang terbuka. (Paragraf 5)

2.     Sarana Cerita

a)     Judul : Khima

b)     Sudut Pandang : Pencerita sebagai peninjau. Pencerita sepenuhnya hanya mengatakan atau menceritakan apa yang dilihatnya.
ü  Sesungguhnya aku telah mengarang cerita untuk menutupi bagian ini, tapi kurasa itu tak akan membantu terlalu banyak. Jika masih ada waktu akan kuceritakan kepadamu.(Paragraf 24)
ü  “Bagaimana ia bisa mengenali kita? Tapi ia tahu yang mana ibunya. Kemarin aku menggendongnya, tiba-tiba saja ia menangis keras. Lalu Lasa menenangkannya. Khima tenang dan mulai meraba-raba susu ibunya.” (paragraf 13)

c)     Gaya Bahasa
Ø  Hiperbola
§  Ingat, tak ada sinyal untuk ponsel genitmu itu. (Paragraf 4)
§  Dengan mata yang seperti akan jatuh ke tanah kapan saja, ia melukiskan betapa dalam ia mencintai laki-laki yang hilang itu. (Paragraf 6)
Ø  Personifikasi
§  Khima telah menjentikkan jari-jarinya, menarikannya dengan lincah di dawai-dawai sitar.(Paragraf 28)
Ø  Simile
§  Mereka mendendangkan lagu kematian dengan bersahut-sahutan yang sepintas akan mirip dengan suara ribuan gagak di padang terbuka. (Paragraf 5)
Ø  Anafora
§  Kadang seturut irama yang disediakan bunyi dawai-dawai, kadang lepas sekehendak hatinya. Kadang diantara keduanya. Kadang garang terkadang tenang. (Endnotes 1, Paragraf 3)
Ø  Aliterasi
§  Kadang garang terkadang tenang. (Endnotes 1, Paragraf 3)

d)    Tema : Menerima kebaikan dari orang yang tidak dikenal dapat menyebabkan malapetaka.

e)    Amanat :
Ä  Jangan mudah menerima bantuan atau barang dari orang asing.
Ä  Orang yang kita anggap baik belum tentu dia benar-benar orang yang baik.


Hal yang menarik :
Hal yang menarik dari cerpen ini adalah dari segi cara penceritaannya. Cerita tidak disajikan secara keseluruhan dan langsung melainkan ada bagian lain yaitu Endnotes. Bagian ini lebih disebut sebagai cerita lain yang dijelaskan atau digambarkan sebagai pelengkap agar pembaca tau kejadian yang sesungguhnya. Endnotes ini ada pada bagian cerita di paragraf 24 dan 30.


Paragraf 24
Tapi di manakah Khima sesungguhnya? Tak ada yang tahu. Tak ad yang benar-benar tahu. Atau katakanlah ini bagian gelap dari hidup Khima. Sesungguhnya aku telah mengarang cerita untuk menutupi bagian ini, tapi kurasa itu tak akan membantu terlalu banyak ¹. Jika masih ada waktu akan kuceritakan kepadamu.
Angka satu di kalimat ke-4 adalah petunjuk untuk membaca Endnotes yang terdapat pada bagian lain cerpen. Disana dijelaskan tentang siapa Khima sesungguhnya secara lebih detail.
¹ Kamu tak pernah tahu namanya. Ia datang begitu saja. nenekmu yang tahu tapi tak pernah bercerita padamu. Namanya Khima, datang pada masa ketika kamar mandimu adalah sebuah telaga. Khima gadis cantik dan menarik.............
Endnotes kedua berada pada bagian cerita paragraf 30.
“Khima, dari mana kau mendapatkannya?” Wa Mukmuk seperti tak percaya pada usianya. Tapi Khima semakin tenggelam dalam petikan sitarnya. “Dewa mana yang mengajarkan lagu itu padamu? Para pejalan dan jalan setapak, tidak jelas lagi siapa yang melintas dan dilintasi. Tak terang lagi siapa yang harus bertanggung jawab atas imaji terpatah-patah dan parah ini. Mungkin aku, dihari minggu yang lain. Tapi Khima sudah tak berada ditempatnya. Kelak ia akan ditemukan seorang gadis di tepi telaga dengan leher koyak.²
Angka dua di bagian akhir kalimat juga menunjukkan untuk membaca Endnotes. Disana akan dijelaskan apa penyebab dari nasib Khima yang nanti ditemukan di tepi telaga dengan leher koyak.
Sejak sanggup memainkan sitar, perasaan bersalah mengutuk seluruh kehidupan Khima selanjutnya. Hidupnya setelah sanggup memainkan sitar . Perasaan itu makin menjadi-jadi setelah disebuah malam yang hujannya sangat deras, ia bermimpi. Sesosok tubuh bebalut kabut cahaya yang merah lemah menghampirinya. Khima tak tahu makhluk apa yang demikian lembut dan kejam yang telah ahdir dihadapannya. Ia hanya merasakan kemarahan yang tertahan........








Analisis Cerpen “ Lubdaka “
Oleh
Mey Dwi Anggraini (102074048)/ PB 2010

  1. Fakta cerita
a.Alur                         : alur yang digunakan penulis adalah alur mundur
Bagian awal    : merupakan akhir cerita, paragraf 1-6
Bagian tengah : merupakan bagian awal cerita, yang berisi konflik, paragraf 7-37
Bagian akhir    : merupakan bagian bagian penyelesaian dari konflik, paragraf 38-47

b.Tokoh dan penokohan      :
·         Lubdaka : pendendam, kejam
“Seratus minggu setelah itu, dihari yang sama dengan hari saat ia pergi, bersama serombongan orang yang serupa dirinya, lelaki itu kembali ke kampung halamannya. Ia, dengan ketenangan yang luar biasa, membunuh satu persatu lelaki-lelaki yang membunuh bapaknya, lelaki-lelaki yang memperkosa dan membakar ibunya.” (paragraf 35)
·         Ibu Lubdaka : sigap
“Ibu bergegas bangkit meninggalkannya. Ia meniup pelita di bilik dan ruang tengah.”(paragraf 24)
·         Bapak Lubdaka : penyayang keluarga, ketika orang-orang desa mengepung rumah Kicaka (bapak Lubdaka)
“Daka, lari! Lari! Bu bawa Daka lari.”(paragraf 28)
“Cepat sembunyilah di rumah Lasa.”(paragraf 29)
·         Umang : periang
“Gadis cilik yang tengah duduk di pinggir kolam itu segera menoleh padanya. Tawanya mengemban.” (paragraf 8)
·         Warga desa (laki-laki) : pemarah
“Suara-suara di luar terdengar makin tak sabar. Mereka mulai menggedor-gedor pintu. Mereka terus memanggil nama bapaknya dengan kasar”. (paragraf 30)
·         Galigi : kejam
“Ia jadi teringat Galigi sahabatnya. Setelah mereka membunuh Khima. Lelaki bergigi besar itu diusirnya pergi.”(paragraf 39)
Cerpen ini terdapat catatan akhir atau endnotes yang di dalamnya berisi kisah beberapa tokoh yang ada dalam cerpen, selain itu cerita dalam endnotes memunculkan beberapa tokoh lagi seperti Khima, Wa Mukmuk dan Lasa.

  c. Latar, meliputi :
  • Waktu :
Ø  Malam
“Ia mengutuk dirinya yang hanya bisa diam di atas pohon menunggu malam lewat.” (paragraf 4)
“tapi mereka seperti tak mau melepaskannya malam ini.”(paragraf 33)
Ø  Sore
“Mereka bertahan sampai sore.” (paragraf 20)
  • Tempat :
§  Bukit
“Sekali lagi ,lelaki itu berdiri di atas bukit di mana ia dulu menatap rumahnya yang terbakar.”(paragraf 37)
§  Halaman rumah
 “Ia mendengar dengan jelas jeritan ibunyasaat mendapati bapaknya terkapar tanpa nyawa di halaman rumah” (paragraf 6)
§  Rumah
“...dan melenting lagi ke depan sambil mengayunkan pedang ke leher orang pertaman yang menerobos masuk rumah.”(paragraf 32)
§  Di pinggir kolam
“Gadis cilik yang tengah duduk di pinggir kolam itu segera menoleh kepadanya.”(paragraf 8)
  • Latar Sosial :
Latar sosial yang ada dalam cerpen ini yaitu suatu keadaan di mana masyarakat hidup dalam jaman dahulu dengan rumah yang sederhana, yang dibuktikan dengan:
“kapala bapaknya menyeruak kain pembatas kamar”(paragraf 23)
“Ia meniup pelita di bilik dan ruang tengah”(paragraf 24)
“kali ini ia menyaksikan seluruh kampung itu yang terbakar. Asap tebal membumbung melontarkan jelaga dan daun-daun umbria yang menyala ke segenap mata angin.”(paragraf 37)

2.      Sarana Cerita
a. Judul : Lubdaka
b. Sudut Pandang : sudut pandang yang digunakan yaitu pengarang sebagai pengamat dalam cerita.
“ketahuilah wahai, Arok, sepanjang malam lelaki itu begadang. Melempar seratus delapan lembar daun maja untuk membuatnya terjaga.”(paragraf 46)
c.       Gaya bahasa :
Ø  Majas anafora
“Bau jalan tanah basah yang setiap hari dilaluinya saat pergi ke kali. Bau katiak ibunya saat menidurkannya. Bau keringat bapaknya saat menggendongnya di pematang sawah. Bau sapi dan kambing-kambingnya di kandang. Juga bau rumahnya yang terbakar ratusan atau ribuan mingguyang lalu”.(paragraf 6)
Ø  Majas metafora implisit
“Seperti melempar kerikil ke punggung Umang”. (paragraf 8)
Ø  Majas epitet
“Bulan telah sepenuhnya ditelan raksasa”.(paragraf 7)
“Matahari sudah hilang di balik pepohonan”. (paragraf 20)
Ø  Majas simile
“Lelaki itu meremas selembar daun maja dan melepasnya menjadi serpih-serpih kecil seperti sayap kupu-kupu gajah yang remuk beterbangan di udara”. (paragraf 38)
d. Tema dan amanat :
Ø  Tema : pembalasan dendam
Ø  Amanat :
1.      Jangan menyimpan dendam pada orang lain karena akan membuat perasaan gelisah dalam diri
2.      Jangan main hakim sendiri karena bisa berakibat vatal, yaitu meninggalnya seseorang

Hal-hal yang menarik :
Dalam cerpen ini yaitu adanya istilah-istilah yang berhubungan dengan agama Hindu. Seperti daun maja, lingga, dan Siwa.
“Daun-daun maja itu telah memuliakan lingga Siwa di kolam,...”(paragraf 46)
“Ia tak pernah tahu malam gelap yang menyesatkannya adalah malam Siwa”. (paragraf 47)
Siwa sendiri dalam agama Hindu merupakan salah satu dewa yaitu dewa Siwa. Dewa Siwa merupakan dewa pelebur atau dewa pemusnah. Sedangkan Lingga umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar), Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak).
Ditinjau dari judulnya yaitu “Lubdaka”, ini merupakan kisah yang diadopsi dari cerita yang ada di agama Hindu. Di Bali, Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. Konon, pada malam Siwaratri, Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. Saat yang bersamaan, dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan dan akhirnya menginap. Agar tidak dimakan binatang buas, si Lubdaka naik ke pohon. Agar tetap terjaga, sebagai pengusir kantuk, si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Dewa Siwa, jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa tepat di saat Beliau beryoga.
Dewa Siwa konon sangat senang karena Lubdaka terjaga dan ‘menemani’ Dewa Siwa melakukan yoga. Maka ketika Lubdaka meninggal, saat lembaga yudikatif kahyangan, dalam hal ini Dewa Yama melakukan pengadilan, datanglah satu batalyon tentara sorga yang dikirim oleh Dewa Siwa, dan membawa Lubdaka ke sorga. Padahal, Dewa Yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi Lubdaka sebagai pemburu adalah dosa, membunuhi binatang-binatang tak berdosa demi kesenangan. Sementara, Dewa Siwa sudah terlanjur ‘sayang’ dengan Lubdaka yang menemaninya satu malam beryoga, sehingga melakukan intervensi pada putusan lembaga yudikatif kahyangan pimpinan Dewa Yama.
Dalam cerpen ini dikisahkan Lubdaka sebagai seorang laki-laki yang membunuh seluruh warga desa, karena ia merasa tidak terima bapak dan ibunya mati karena warga desa. Dan tempat ia sering tinggal yaitu di pohon maja.
“Ia mengutuk dirinya yang hanya bisa diam di atas pohon menunggu malam lewat.”  (paragraf 4)
“dipetiknya selembar daun dan dilemparkannya tanpa alasan.”(paragraf 5)
“Seratus minggu setelah itu, dihari yang sama dengan hari saat ia pergi, bersama serombongan orang yang serupa dirinya, lelaki itu kembali ke kampung halamannya. Ia, dengan ketenangan yang luar biasa, membunuh satu persatu lelaki-lelaki yang membunuh bapaknya, lelaki-lelaki yang memperkosa dan membakar ibunya.” (paragraf 35)

Nama          : Erinda Resti Lestari
Kelas           : PB 2010
Nim             : 102074062

Analisis Cerpen
Bon Suwung
1.Fakta Cerita
Alur   : Maju
Tersebutlah, selepas bencana. Di langit timur tampak segurat garis cahaya setajam lidi jantan................
Tokoh dan Penokohan
1.   Aku ( sebagai orang yang serba tahu)        :
1. Aku pingin bercerita, panjang. Tapi apakah kamu sanggup ? aku sanggup?......................
2.   Anak laki-laki (merindukan seorang ibu,penyayang, romantis)                   :
1.   Aku kangen ibu. Ibu kangen aku tidak?
2. Bapak tidak pulang, Bu?
3. ...... membuat puisi. Tentang seorang perempuan yang tertidur. Dibaca sekali, teringat Marquez ....
3.   Ibu(Dingin, tidak berani berharap,penyayang, kesepian) :
1.tidak, rambutmu berdebu sudah sampai mana saja kamu ?
2. aku sudah tak berani berharap kamu pulang seperti bapakmu.
3. biar malam sepi-sepi saja. Tak perlu ada harap, bulan dan bintang .....
4. Ibu membelai rambut anaknya, mencari kutu, ketombe, dan cerita .....
4.   Anak perempuan (Tidak mudah putus asa, tegar, gadis penyuka bunga) :
1.   Lalu jongkok memunguti satu-persatu (bunga yang sudah dibuang oleh anak laki-laki)
2.   Dan terakhir, tolong antar aku sampai di Bon Suwung.”
3.   Kamu tak suka, sayang kamu Cuma diam, memeluk lutut. Menunduk kamu tak menangis.
Latar
          a. Tempat :
1. Pelataran          : Selepas cahaya tersilak pelataran luas tanpa nama tanpa pepohonan.
2. Dirumah : geragapan si lelaki mengetuk pintu berupa alang-alang. “Bu, aku pulang.”, Lalu masuk kebelakang pura-pura bikib kopi.
3. Kereta     : Dik, kereta ini menuju jogja.
4. Bon Suwung    : “ aku juga nggak tahu. Dulu aku pernah menanam air mataku di sana......
                   b. Waktu :
1. pagi hari : Di langit timur tampak segurat garis cahaya setajam lidi jantan, Paginya aku membawa cahaya sore yang kubungkus kertas koran.
2. malam hari : malamnya arwah-arwah bunga itu mengganggu tidurmu, Pegangan pada bintang sendirian...

Sarana Cerita
a. Judul                    : Bon Suwung
b.Sudut Pandang      : pengarang sebagai pengamat
c.Gaya Bahasa dan Nada    :
Gaya Bahasa :
Majas Personifikasi : “Malamnya arwah-arwah bunga itu mengganggu tidurmu”,
Majas Alegori : “Paginya aku membawa cahaya sore yang kubungkus kertas koran.”, “Pegangan pada bintang sendirian memanggil pagi hari.”, Dalam cerpen ini banyak menggunakan bahasa yang tidak baku seperti pada kata nggak, Cuma, bikin, dan banyak menggunakan kata-kata kias yang dalam membacanya kita perlu memikirkan arti sebenarnya.
e.    Tema dan Amanat                   :
a.    Tema           ; Sebuah pengharapan dan penantian
b.   Amanat       : Sebagai manusia biasa hendaknya kita jangan takut untuk berharap akan sesuatu, namun pengaharapan itu juga janganlah terlalu berlebihan karena apabila sesuatu yang kita harapkan itu tidak pasti maka kita juga akan sakit sendiri. Itulah amanat yang dapat saya ambil dari cerpen Bon Suwung.


Hal Yang Menarik          :
          Cerpen yang berjudul Bon Suwung ini merupakan sebuah cerpen yang unik karena di awal ceritanya kita sudah disuguhi dengan cesuplik cerita yang bergayakan penjelasan arti dari kata-kata jawa yang mungkin jarang kita pahami, dan dibagian tengah cerita ini juga menggunakan bahasa jawa seperti Leng-leng gatining kang. Awang saba-saba. Nikeng Ngastina. Samanta takeng. Tegal milu ring karya. Krena lakunira. Parasu Rama. Kanwa Janaka...... dari kalimat tersebut ditunjukkan bahwa cerpen ini mungkin mempunyai tujuan ingin memperkenalkan bahasa jawa kepada masyarakat luas yang kurang peduli dengan perkembangan bahasa jawa saat ini. Dalam cerpen ini juga tidak dijelaskan secara gamblang isi dari cerpen tersebut penulis lebih bergayakan pada khayalan atau imajinasi jadi pembaca perlu mengartikannya lebih. Kata-kata yang digunakan pun banyaak mengandung makna konotasi atau bukan makna sebenarnya. Jadi kesimpulan yang dapat saya ambil bahwa cerpen ini baik untuk dibaca semua kalangan.









PENUTUP

KESIMPULAN
            Jadi Gunawan Maryanto merupakan sasrtawan yang lahir dalam angkatan 2000. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (naskah lakon, ditulis bersama Andre Nur Latif dan Ugoran Prasad, Indonesiatera, 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, Insistpress2005), Galigi (kumpulan cerpen, Koekoesan, 2007), Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (kumpulan puisi, Omahsore, 2008) dan Usaha Menjadi Sakti (kumpulan cerpen, Omahsore, 2008).
            Dalam menganalisis dan mengapresiasikan keseluruhan cerpen, maka cerpen-cerpen tersebut dikelompokkan berdasarkan kesamaan tema, keterkaitan antar cerita dalam cerpen, kesamaan nasib tokoh, cara penyampaian cerita, dan keseluruhan amanat. Dari sana bisa dilihat apa saja karakteristik dan ciri khas setiap cerpen yang tidak menutup kemungkinan saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya.

SARAN
            Dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari kesalahan dalam penulisan, untuk pembaca diharapkan dapat memberikan komentar agar kami dapat memperbaharuinya. Kami juga menyarankan agar pembaca untuk membaca buku aslinya karena isi dari kumpulan cerpen “Bon Suwung” ini adalah cerpen-cerpen yang Gunawan Maryanto yang secara alusi maupun tidak, tidak lepas dari teks-teks yang sudah ada sebelumnya. Retorika cenderung untuk tidak menyentuh realitas yang sebenarnya, sementara alusia adalah teks yang secara tidak langsung diangkat ke dalam teks lain, dan karena itu jangan heran, manakal cerpen-cerpen Gunawan Maryanto menawarkan dunia yang asing. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar